Agentic AI: Pengertian, Cara Kerja, Contoh, dan Manfaatnya

AINgoprek
Views: 23

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus membawa perubahan dalam cara manusia bekerja dan menjalankan bisnis. Jika sebelumnya AI lebih sering digunakan untuk menjawab pertanyaan, membuat artikel, atau menghasilkan gambar, kini teknologi tersebut berkembang menjadi sistem yang mampu merencanakan dan menjalankan serangkaian tugas secara otomatis. Teknologi ini dikenal dengan istilah Agentic AI.

Agentic AI menjadi salah satu perkembangan menarik dalam dunia teknologi karena memungkinkan AI bekerja menuju tujuan tertentu dengan pengawasan manusia yang lebih terbatas. Teknologi ini berpotensi membantu pekerjaan sehari-hari, mulai dari mengelola data, melayani pelanggan, memantau sistem komputer, hingga mendukung kegiatan pemasaran digital.

Lalu, apa sebenarnya Agentic AI, bagaimana cara kerjanya, dan apa bedanya dengan AI yang biasa digunakan seperti chatbot? Berikut penjelasannya dengan bahasa sederhana.

Apa Itu Agentic AI?

Agentic AI adalah sistem kecerdasan buatan yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu melalui proses analisis, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan tindakan. Sistem ini dapat menjalankan beberapa tahapan pekerjaan tanpa harus menunggu instruksi manusia pada setiap langkahnya.

Istilah agentic merujuk pada kemampuan suatu sistem untuk bertindak secara mandiri dan terarah. Dalam penerapannya, Agentic AI dapat menggunakan AI agent atau agen AI yang bertugas menyelesaikan pekerjaan tertentu. Agen tersebut bisa terhubung dengan berbagai perangkat, aplikasi, basis data, maupun layanan online untuk mengumpulkan informasi dan melakukan tindakan sesuai kewenangannya.

Sebagai contoh, ketika seseorang meminta AI mencari informasi tentang tren pasar, chatbot biasa mungkin akan memberikan rangkuman berdasarkan informasi yang tersedia atau hasil pencarian yang diminta. Sementara itu, sistem Agentic AI dapat dirancang untuk mencari data dari beberapa sumber, membandingkan informasi, membuat laporan, menyimpannya ke dokumen, dan mengirimkan hasilnya kepada pengguna.

Perlu dipahami bahwa kemampuan tersebut bergantung pada sistem yang digunakan, akses yang diberikan, dan aturan yang ditetapkan. Tidak semua produk AI otomatis memiliki kemampuan agentic yang lengkap.

Apa Perbedaan Agentic AI dan Generative AI?

Generative AI adalah teknologi kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan konten baru, seperti teks, gambar, audio, video, dan kode program. Contoh penggunaannya adalah membuat artikel menggunakan chatbot, menghasilkan ilustrasi, atau membantu menulis kode aplikasi.

Agentic AI memiliki fokus yang lebih luas. Selain memanfaatkan kemampuan AI untuk memahami informasi dan menghasilkan jawaban, sistem ini dapat menggunakan hasil tersebut untuk merencanakan dan menjalankan tindakan demi mencapai suatu tujuan.

Contoh sederhananya, jika diminta membantu membuat laporan penjualan, Generative AI dapat menyusun laporan berdasarkan data yang diberikan. Agentic AI yang terhubung dengan sistem penjualan dapat dirancang untuk mengambil data, menganalisis perubahan penjualan, membuat laporan, lalu menyimpannya ke lokasi yang telah ditentukan.

Dengan demikian, perbedaan utamanya bukan berarti Generative AI tidak bisa melakukan tindakan. Generative AI juga dapat terhubung dengan berbagai alat. Namun, Agentic AI lebih menekankan alur kerja yang berorientasi pada tujuan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan beberapa langkah secara terkoordinasi.

Bagaimana Cara Kerja Agentic AI?

Agentic AI dapat memiliki arsitektur yang berbeda-beda, tergantung kebutuhan dan teknologi yang digunakan. Secara umum, proses kerjanya dapat dijelaskan melalui beberapa tahapan berikut.

1. Mengumpulkan informasi

Langkah pertama adalah memahami kondisi dan mengumpulkan data yang dibutuhkan. Sumber informasi bisa berasal dari pertanyaan pengguna, dokumen, basis data, API, situs web, atau sistem lain yang sudah terhubung.

Misalnya, agen AI yang bertugas memantau penjualan mengambil data transaksi terbaru dari sistem perusahaan untuk mengetahui produk mana yang mengalami kenaikan atau penurunan penjualan.

2. Menganalisis dan memahami situasi

Setelah informasi terkumpul, AI memproses data tersebut untuk menemukan pola, memahami konteks, dan menentukan masalah yang perlu diselesaikan. Tahap ini dapat memanfaatkan model bahasa besar atau Large Language Model (LLM), teknologi pengolahan bahasa, dan metode analisis lainnya.

Dalam contoh penjualan, AI dapat membandingkan performa produk selama beberapa periode dan mendeteksi kemungkinan penyebab penurunan penjualan.

3. Menentukan tujuan dan menyusun rencana

Berikutnya, sistem menentukan langkah yang perlu dilakukan berdasarkan tujuan dan batasan yang telah ditetapkan. Pekerjaan yang kompleks dapat dipecah menjadi beberapa tugas yang lebih kecil agar lebih mudah diselesaikan.

Jika tujuannya adalah membuat laporan penjualan mingguan, sistem bisa menyusun rencana berupa mengambil data, memeriksa kelengkapan data, menghitung perubahan penjualan, membuat rangkuman, dan menyiapkan laporan akhir.

4. Memilih keputusan dan menjalankan tindakan

AI kemudian memilih tindakan yang dianggap sesuai dan menjalankannya melalui alat atau sistem yang tersedia. Tindakan tersebut bisa berupa mencari informasi, membaca dokumen, menjalankan kode, memperbarui data, atau mengirimkan laporan.

Pada tahap ini, Agentic AI berbeda dari sistem yang hanya memberikan saran. Dengan integrasi dan izin yang sesuai, agen dapat benar-benar melakukan pekerjaan di aplikasi lain. Namun, tindakan berisiko tinggi tetap sebaiknya memerlukan persetujuan manusia.

5. Memeriksa hasil dan menyesuaikan langkah

Setelah tindakan dilakukan, sistem dapat memeriksa apakah hasilnya sesuai dengan tujuan. Jika terjadi kesalahan atau informasi yang dibutuhkan belum lengkap, agen dapat mencoba langkah lain sesuai aturan yang tersedia atau meminta bantuan manusia.

Kemampuan menyesuaikan tindakan ini tidak selalu berarti AI otomatis belajar secara permanen dari setiap pekerjaan. Perbaikan dapat berasal dari umpan balik, konteks percakapan, memori sistem, atau mekanisme pembelajaran yang memang disediakan.

Contoh Penggunaan Agentic AI dalam Kehidupan Sehari-hari

Agentic AI dapat diterapkan di berbagai bidang. Berikut beberapa contoh penggunaannya yang mudah dipahami.

1. Membantu pekerjaan administrasi

Agen AI dapat dirancang untuk membaca dokumen, mengelompokkan email, menyusun jadwal, membuat rangkuman rapat, dan menyiapkan laporan rutin. Dengan integrasi yang tepat, beberapa pekerjaan tersebut dapat berjalan dalam satu alur kerja tanpa harus dilakukan secara manual satu per satu.

2. Membantu pemasaran digital

Dalam digital marketing, Agentic AI dapat membantu memantau performa iklan, menganalisis biaya per hasil, membandingkan performa kampanye, dan menyiapkan rekomendasi optimasi. Sistem yang memiliki akses dan izin memadai juga dapat menjalankan tindakan tertentu, misalnya memperbarui laporan atau menyesuaikan pengaturan kampanye sesuai aturan yang sudah ditentukan.

Meski begitu, perubahan anggaran, penghentian iklan, dan keputusan yang berdampak besar terhadap bisnis sebaiknya tetap memiliki batasan yang jelas serta mekanisme persetujuan.

3. Melayani pelanggan secara otomatis

Chatbot berbasis agen AI dapat membantu pelanggan memeriksa status pesanan, mencari informasi produk, mengakses panduan penggunaan, atau membuat tiket pengaduan. Jika pertanyaan tidak dapat diselesaikan, sistem bisa meneruskan percakapan kepada petugas manusia.

Hasilnya, pelanggan dapat memperoleh bantuan lebih cepat, sementara tim layanan pelanggan bisa lebih fokus menangani masalah yang membutuhkan penilaian manusia.

4. Memantau keamanan sistem komputer

Dalam bidang keamanan siber, agen AI dapat membantu memantau log server, aktivitas jaringan, dan pola akses yang tidak biasa. Ketika menemukan indikasi ancaman, sistem dapat memberikan peringatan atau menjalankan tindakan pencegahan yang telah diizinkan.

Contohnya, sistem dapat mengidentifikasi pola login yang mencurigakan dan mengirimkan notifikasi kepada administrator. Tindakan seperti memblokir akun atau mengubah konfigurasi server perlu mengikuti kebijakan keamanan yang ketat.

5. Mendukung pengelolaan bisnis

Pelaku usaha dapat memanfaatkan Agentic AI untuk membantu memantau stok barang, menganalisis penjualan, membuat laporan keuangan awal, atau mengingatkan ketika persediaan mulai menipis.

Dalam sistem yang terintegrasi dengan pemasok, agen juga dapat menyiapkan pesanan pembelian. Namun, pembelian otomatis sebaiknya dibatasi berdasarkan anggaran, jumlah stok, dan persetujuan yang telah ditetapkan perusahaan.

Apa Manfaat Agentic AI?

Salah satu manfaat utama Agentic AI adalah membantu mengurangi pekerjaan berulang. Tugas yang sebelumnya membutuhkan banyak langkah manual dapat diatur menjadi alur kerja yang lebih terstruktur dan otomatis.

Beberapa manfaat yang berpotensi diperoleh antara lain:

  • Menghemat waktu: pekerjaan rutin dapat diselesaikan lebih cepat dengan mengurangi perpindahan manual antar aplikasi.
  • Meningkatkan produktivitas: karyawan dapat lebih fokus pada analisis, kreativitas, strategi, dan keputusan penting.
  • Mengintegrasikan berbagai sistem: agen dapat menghubungkan proses kerja yang sebelumnya terpisah, selama integrasi dan akses tersedia.
  • Mendukung pengambilan keputusan: data dari beberapa sumber dapat dikumpulkan dan dianalisis untuk menghasilkan informasi yang lebih mudah dipahami.
  • Meningkatkan skalabilitas: alur kerja tertentu dapat diperluas untuk menangani lebih banyak tugas tanpa harus menambah langkah manual secara sebanding.

Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena perusahaan menggunakan AI. Hasilnya bergantung pada kualitas data, desain alur kerja, biaya implementasi, integrasi sistem, dan kemampuan organisasi dalam mengawasi teknologi tersebut.

Apa Risiko dan Tantangan Agentic AI?

Walaupun memiliki potensi besar, Agentic AI juga memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Semakin besar kewenangan yang diberikan kepada agen, semakin penting pula pengawasan dan pengamanan sistemnya.

1. Kesalahan dalam mengambil keputusan

AI bisa salah memahami instruksi, menggunakan informasi yang tidak akurat, atau memilih tindakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Jika sistem diizinkan menjalankan tindakan secara otomatis, kesalahan tersebut dapat menimbulkan dampak yang lebih luas.

2. Risiko keamanan dan privasi

Agen yang memiliki akses ke email, dokumen, basis data, atau sistem perusahaan berpotensi menjadi titik risiko baru. Karena itu, akses harus dibatasi sesuai kebutuhan, informasi sensitif perlu dilindungi, dan setiap tindakan penting sebaiknya memiliki catatan aktivitas yang dapat diperiksa.

3. Biaya dan kompleksitas implementasi

Membangun Agentic AI tidak hanya membutuhkan model AI. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan biaya integrasi, penggunaan API, infrastruktur, pemantauan, pengujian, dan pemeliharaan. Sistem yang terlalu kompleks justru bisa menambah beban operasional jika manfaatnya tidak sebanding dengan biayanya.

4. Tujuan yang tidak tepat

Jika AI hanya diarahkan untuk mengejar satu indikator tanpa mempertimbangkan konteks, hasilnya bisa merugikan. Sebagai contoh, agen yang diminta meningkatkan interaksi media sosial mungkin memilih konten sensasional, meskipun tidak sesuai dengan reputasi merek.

Untuk mengurangi risiko tersebut, perusahaan perlu menentukan tujuan yang jelas, batasan tindakan, indikator keberhasilan, dan kondisi kapan sistem harus berhenti atau meminta persetujuan manusia.

Apakah Agentic AI Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia?

Agentic AI berpotensi mengubah cara berbagai pekerjaan dilakukan, terutama tugas yang rutin, berulang, dan memiliki prosedur yang jelas. Sebagian aktivitas administratif atau analisis dapat menjadi lebih otomatis sehingga kebutuhan terhadap pekerjaan manual tertentu mungkin berkurang.

Namun, hal ini tidak berarti seluruh pekerjaan manusia akan langsung tergantikan. Banyak pekerjaan tetap membutuhkan penilaian, kreativitas, pemahaman konteks, tanggung jawab, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang tidak mudah diserahkan sepenuhnya kepada AI.

Dalam praktiknya, perusahaan dapat menggunakan agen AI sebagai alat bantu bagi karyawan. Manusia tetap menentukan tujuan, menetapkan aturan, memeriksa hasil, dan bertanggung jawab atas keputusan penting. Kemampuan menggunakan AI secara efektif pun dapat menjadi nilai tambah bagi pekerja di berbagai bidang.

Bagaimana Cara Mulai Menggunakan Agentic AI?

Bagi individu maupun perusahaan yang ingin mencoba Agentic AI, langkah terbaik adalah memulai dari masalah yang spesifik. Tidak semua pekerjaan perlu diotomatisasi, dan tidak semua penggunaan AI membutuhkan sistem agen yang kompleks.

Berikut beberapa langkah awal yang bisa dilakukan:

  1. Pilih pekerjaan yang tepat. Mulailah dari aktivitas berulang, seperti membuat laporan, mengelompokkan data, atau memantau informasi.
  2. Tentukan hasil yang diharapkan. Tetapkan ukuran keberhasilan, misalnya penghematan waktu, pengurangan kesalahan, atau peningkatan kecepatan proses.
  3. Siapkan data dan integrasi. Pastikan agen dapat mengakses sumber informasi yang dibutuhkan secara aman dan sesuai kewenangan.
  4. Batasi hak akses. Pada tahap awal, utamakan tindakan yang aman dan mudah dibatalkan. Hindari memberikan akses penuh tanpa alasan yang jelas.
  5. Uji dalam skala kecil. Bandingkan hasil kerja agen dengan proses manual untuk mengetahui akurasi, biaya, dan manfaatnya.
  6. Lakukan evaluasi berkala. Periksa kesalahan, catatan aktivitas, penggunaan sumber daya, serta kebutuhan untuk memperbaiki instruksi dan aturan sistem.

Dengan pendekatan bertahap, pengguna dapat memahami kemampuan dan keterbatasan teknologi sebelum menerapkannya pada proses bisnis yang lebih penting.

Singkat kata…

Agentic AI merupakan perkembangan kecerdasan buatan yang berfokus pada kemampuan mencapai tujuan melalui analisis, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan tindakan. Berbeda dengan penggunaan AI yang hanya menghasilkan jawaban atau konten, sistem agentic dapat dirancang untuk menjalankan serangkaian pekerjaan dengan memanfaatkan alat dan aplikasi yang terhubung.

Teknologi ini berpotensi membantu pekerjaan administrasi, pemasaran digital, layanan pelanggan, keamanan sistem, dan pengelolaan bisnis. Namun, penerapannya tetap membutuhkan data yang baik, pengamanan yang memadai, batasan kewenangan, serta pengawasan manusia.

Bagi individu maupun perusahaan, langkah paling masuk akal bukan langsung mengotomatisasi semua pekerjaan, melainkan memilih satu proses yang jelas, mengujinya secara terukur, dan mengembangkan penggunaannya berdasarkan hasil nyata.

Referensi IBM Think — What Is Agentic AI?

Mungkin Kamu juga suka

Solusi Baru untuk AI Voice Over yang Mahal
Mengenal OpenClaw, Asisten AI Open-Source yang Bikin Heboh Dunia Developer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed